Apakah cinta itu butuh kesatuan jiwa dan raga? Lalu, kenapa 'orang' zaman dahulu istrinya buanyaakk?

Kemarin ini aku nostalgia nonton anime Bakuman

Singkat cerita di season pertama, paman dari tokoh utama seorang mangaka yang berjuang susah payah buat nge-goalin (serialisasi) manga nya supaya diproduksi (jadi anime) meninggal dunia karena terlalu lelah bekerja.
Yang menarik dari flash back cerita itu adalah, dia janji sebelum tujuannya tercapai (serialisasi tadi) dia gk akan ngedeketin perempuan yang dia taksir, tapi sayangnya tadi, dia keburu meninggal dan alhasil perempuan yang dia taksir keburu nikah sama orang lain padahal diceritain mereka sama-sama suka :'(

Sedih sekali meskipun hanya cerita manusia.

Mungkin semua ceritanya akan berubah kalau mereka gk ngelakuin hal konyol seperti itu (ketidakpastian dan kesetiaan), dan kalau ceritanya berubah anime Bakuman gk akan ada kyaknya, wkwk.

Pertanyaannya:

  1. Apakah cinta itu butuh kesatuan jiwa dan raga?
    Maksudnya, apakah tanpa kehadiran fisik seseorang, itu berarti memudarkan cintanya?
    Jika iya, bukankah itu berarti cinta itu hanya masalah kehadiran dan kemauan? Apakah manusia selemah itu?
    Sebelum jauh kesitu, sebenarnya cinta itu apa? >_<
  2. Apakah hal ini bisa menjawab fenomena orang yang berganti-ganti pasangan, bahkan setelah ia menikah?
  3. Lalu, apakah esensinya sama dengan orang zaman dahulu yang mempunyai banyak pasangan, selir, simpanan atau apapun itu namanya?

Seperti biasa, mohon diluruskan ke Jalan yang benar, wkwkwk

Thx Confucius.ID

Teh Nyai

Diantara benih yang tumbuh ada yang tidak berbunga dan diantara yang berbunga ada pula yang tidak berbuah ~Confucius
 
{{value.timestamp}} {{value.hits}}