2018-07-28 06:12:01

Empat mata, antara aku dan bu dosen (ehem)

Tidak seperti hari biasanya, sore hari kala itu hening suasana kampus. Masih tergambar jelas senyum manisnya, merah muda mempersona warna bibirnya. Indah terlukis di dalam memori, namun sayang.. beranak dua, such as a liarrrr.

Warning

Sebelum melanjutkan membaca cerita ini, silahkan persiapkan mental yang kuat karena cerita ini merupakan cerita dewasa nyata yang berasal dari galaksi yang teramat jauh di semesta ini; dan mungkin akan sulit dipahami bagi pembaca awam, peace!

Pengantar

Sejak dahulu (bahkan sampai sekarang) saya masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dinamai dengan belajar dan bagaimana belajar itu seharusnya dilakukan. Misalnya saja, kita berkata bahwa Belajar adalah proses memahami hal yang sebelumnya tidak diketahui hingga menjadi kita ketahui. Hmm, bagaimana dengan definisi ini? Cukup baik bukan? *Hahaha (dimana lucunya ya??)

Tidak, ini bukan tentang definisi apa itu belajar melainkan hal yang lebih fundamental daripada itu.

Cerita

Hari itu, tepatnya sore hari setelah selesai kelas, saya pergi menemui sosok yang sudah lama ingin saya temui selama 2-3 bulan terakhir ini; ibu dosen. Kenapa ngebet banget pengen ketemu sampai 2-3 bulan ini? Beliau sedang cuti selama 2-3 bulan terakhir, baru hingga beberapa hari yang lalu kembali aktif mengajar.

***

Singkat cerita, bertemulah saya dengan beliau di ruang dosen tempat beliau berada. Lalu menanyakan mengenai nilai mata kuliah saya yang diampu oleh beliau di semester sebelumnya. (jangan tanya nilainya apa! awas jangan tanya yaa!) Kurang lebih, beginilah transkrip percakapannya:

Ujang: Permisi. maaf bu, ini ujang yang waktu itu konfirmasi nilai sebelum ibu cuti. Sampai sekarang nilai saya kok masih belum berubah ya bu?

Ibu: Oh iya, waktu itu saya udah kasih kok ke Sekretariat supaya diubah nilainya.

Ujang: Oh begitu ya bu, berarti di Sekretariat nya belum diubah ya?

Ibu: Iya, coba nanti saya cek lagi ya!

Ujang: Iya bu! Oh iya bu, waktu itu ibu pernah bilang kalau nanti nilainya kurang bisa diperbaiki ya bu? (trigger start)

Ibu: Oh bukan begitu, itu mah buat yang nilainya jelek aja.

Ujang: 'kan saya juga nilainya jelek bu?

Ibu: Bukan, itu khusus buat yang perlu di-remedial aja!

Ujang: Oh jadi gak bisa ya bu? Huft!

Ibu: Iya gak bisa, paling kalau mau ulang aja tahun depan! (haha lucu ya bu -_-)

Ujang: Padahal yang lain mah nilainya bagus-bagus ya bu!

Ibu: Iya, kalau saya lihat di kelas kamu rata-rata bagus semua nilainya, cuma dua-tiga orang aja yang kurang bagus.

Ujang: Iya bu, da mereka mah apa atuh.., pada kerjasama semua! (trigger.. trigger.. daisuki)

***

Udah ah. Sampai sini aja transkripnya, aku gak kuat kalau dilanjutin lagi! hahaha

Cerita selanjutnya hanyalah cerita membosankan dan penuh kekecewaan yang ada. Mengapa tidak?
Jadi sebetulnya, pada saat hari ujian saya mengikuti kelas lain untuk mengikuti ujian (bukan kelas yang biasanya).

Beberapa hari setelah ujian, ada hal menarik yang dikatakan orang kelas mengenai ujian hari itu. Kurang lebih begini kata mereka:

Si ibunya juga keluar ruangan sepanjang ujian, balik-balik lagi pas udah mau beres!
kamu atuh gk ikut di kelas yang biasa!

Saya tidak terlalu peduli dengan nilai sempurna dan saya sangat bersyukur tidak mengikuti kelas yang seharusnya pada waktu itu. Karena sungguh, dari dulu sampai sekarang hal yang sama selalu berulang.

Hmm, menyenangkan sekali rasanya melihat ekspresi ibu dosen saat itu. Raut wajah itu rasanya seperti memberitahu semua hal yang ingin diberitahu sekian lama namun tidak bisa.

Kong Zi bersabda, "Zaman dahulu orang belajar bertujuan membina diri. Sekarang orang belajar bertujuan memperlihatkan diri kepada orang lain."
Lun Yu Jilid XIV:24

Mungkin

Kenapa sosok yang saya harapkan menjadi pahlawan itu berwajah demikian.
Apa karena kids zaman now yang makin lama makan tjhupu? Sehingga untuk diri sendiri juga perlu dikasihani?

Tidak, saya tidak menyalahkan bu dosen.
Tidak ada gunanya saling menyalahkan, hanya akan membuang-buang waktu.
Terlebih, saya tahu; beliaulah yang lebih paham mengenai hal ini.

Dalam hemat saya, kelas tersebut rasanya seperti dipecundangi, dianggap orang yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Tentu justifikasi ini bisa salah (dan semoga salah). Namun, meskipun demikian. Setidaknya saya masih melihat dan merasakan ada orang-orang yang masih percaya dengan dirinya sendiri (you're the reall mvp), meskipun pada akhirnya nilai mereka tidak begitu baik, hahaha.

Kong Zi bersabda,
"Seorang Jun Zi bila tidak menghargai dirinya, niscaya tidak berwibawa; belajarpun tidak akan teguh."
"Utamakanlah sikap Satya dan Dapat Dipercaya."
"Janganlah berkawan dengan orang yang tidak seperti dirimu."
"Bila bersalah janganlah takut memperbaiki."
Lun Yu Jilid I:8

Masalah

Orang-orang berkata kurikulumnya jelek, gurunya gak bener, fasilitasnya kurang, anu eto..

Mungkin benar, mungkin juga tidak.

Tapi yang paling mendasar dari semua hal itu adalah, kamu! (lagi-lagi kamu kan, haha)
Semua tidak akan ada artinya kalau bukan kamu!

Kita bicara freeport dikuasai asing, bisnis dikuasai sembilan naga (kayak film silat ya?), de el el. Lalu, kenapa bukan kamu?

Manusia tidak hidup selamanya, roda perputaran kehidupan selalu bergerak, kita sekarang mungkin di bawah; tapi suatu saat kita mungkin akan berada di atas. Tentu, tentu.. Tapi kapan?
Kapan terakhir kali kita berhasil mendapatkan apa yang benar-benar kita rencanakan? Ambisi?
Mungkin iya, mungkin juga tidak! Manusia bertindak, Tuhan berkehendak, kan?

Masalahnya adalah, saya tidak melihat itu semua di matanya.
Seperti zombie yang hidup hanya untuk makan --dan mungkin beranak? hahaha

Kong Zi bersabda, "Di dalam belajar hendaklah engkau seperti tidak dapat mengejar dan khawatir seperti engkau akan kehilangan pula."
Lun Yu Jilid VIII:17

Jadi?

Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Sederhana sekali, bukan?

Yang mungkin kita butuhkan adalah kesadaran dan hidup atas diri sendiri.

Kita mungkin gagal mendapatkan sesuatu, tapi bukan berarti kita akan gagal selamanya dalam segala hal! 
Semangatnya adalah, rasanya seperti berkhianat terhadap diri sendiri saat tidak kita lakukan sendiri.

Last but not least

10 tahun dari hari ini, saya ingin bertemu dengan mereka para CEO hebat dari kelas saya, saya ingin bertemu dengan para pengusaha tekstil itu, saya ingin bertemu dengan mereka para pengusaha ternak dan pangan, ingin.. ingin.. :)

Kong Zi bersabda, "Yang dapat diajak belajar bersama, belum berarti dapat diajak bersama menempuh Jalan Suci; yang dapat diajak menempuh Jalan Suci, belum berarti dapat diajak bersama berteguh; dan yang dapat diajak berteguh, belum berarti dapat terus bersesuaian paham."
Lun Yu Jilid IX:30

Teh Nyai

Diantara benih yang tumbuh ada yang tidak berbunga, dan diantara yang berbunga ada pula yang tidak berbuah ~Confucius

Konten disalin