Minggu, 3 Juni 2018, 20:48

Langit malam bisu, bintang tak bersinar lagi

Malam ini dingin juga sepi, aku ingin kau memelukku, Mil...
Begitulah sebuah transkrip khayalan dari sebuah novel populer yang belum pernah saya baca, haha.

Teman-teman, coba pandangi langit malam hari ini.
Sadarkah teman-teman, langit malam kita sunyi gelap kehilangan sinarnya?
Bukan, ini bukan puisi romansa ataupun kata-kata indah, ini kenyataan. Waduh bahaya level internasional ini..

Hilang, benarkah?

Entah ini hanya perasaan saja atau imajinasi yang terlalu hebat. Tapi, setiap malam saya lihat langit itu, jarang saya temukan bintang-bintang bersinar di langit malam.

Pertama kali saya sadar akan hal ini, empat-lima tahun silam. Awalnya saya berasumsi, Oh, mungkin belum musimnya.

Bulan demi bulan berganti dan lagi, saya tersadar bahwa malam hari ini selalu sepi sunyi (iya saya tahu, jones-kan?). Lalu saya berasumsi lagi, Oh, mungkin kehalangin awan kali, lol wkwk 

Lalu tersadarlah saya, musim berganti tidak sesuai peredarannya lagi. Cuaca tidak menentu, di kala musim panas turun hujan deras, di kala hujan cuaca panas terik masakan di pantai.

Mari bercerita

Suatu hari di sebuah perbincangan santai saya dengan seorang teman. Singkat cerita, saya bercerita dan berspekulasi sembari bertanya. 

"Manusia makin banyak aja ya, daerahnya cuma segini-gini aja, kerjaannya cuma segini-gini aja, sumber dayanya juga cuma segini-gini aja." saya mulai pembicaraan.

"Iyalah, orang tiap hari lahir, orang biasanya punya anak dua sampai tiga." jawabnya.

"Di tahun kita nanti, orang bakalan kyak gmna ya?" balas saya.

"Ya begitu, makin banyak makin gak ada artinya" jawabnya lalu dia berkata, "lu liat aja di tv, kemarin katanya satu-satunya spesies badak langka mati, kayaknya di masa depan orang lebih milih orang mati daripada hewan langka begitu, lagian orang udah banyak"

Wait..wait.. kaget juga saya denger jawaban dia, wkwk.

Saya coba jawab dengan nyeleneh, "Ya berarti tinggal milih aja, mau PD III dengan nuklirnya, genosida model hitler, atau seleksi alam" dia lalu menjawab, "Seleksi alam kayaknya" kami akhiri percakapan dengan tertawa wkwkwk.

"Kini negara-negara di dunia, daerahnya hampir bersamaan. Kebajikannya juga sebanding saja; tiada yang dapat benar-benar lebih dari yang lain." Ini sebabnya tidak lain karena masing-masing hanya mau 'mendidik' menteri-menterinya, tidak suka menerima pendidikan dari menteri-menterinya.

Meng Zi Jilid II B:2.9

Alam menanti

Saya kira fenomena ini terjadi bukan dengan tanpa alasan. Tidak percaya?
Coba saja kita ingat, kapan terakhir kali kita peduli dengan alam, menanam atau menyirami pohon misalnya? you see?

Lagipula alam tidak selemah yang kita kira, alam hanya menanti jawaban kita sebagai manusia. Apakah kita masih sanggup untuk mengurusnya, apakah kita masih mau untuk peduli dengannya, atau Alam yang akan melakukannya?

Oh iya, omong-omong soal alam saya teringat sebuah kata-kata menarik saat melintasi sebuah kawasan perbelanjaan,

Nature is not a place to visit, but it's home.

~Saya lupa nama orang yang bilangnya, wkwk

Twinkle, twinkle.

Twinke twinkle little star, how i wonder what you're.
Up above the world so high, like a diamond in the sky.

Teman setia di malam hening dan sunyiku, bulan juga bintang
Dari dahulu hingga saat ini tetap setia menemani
Kini aku tak melihat pasangannya lagi
Bintang.. bintang.., kemana kamu?

Last but not least

"Setinggi-tinggi langit, sejauh-jauh bintang; orang dapat menyelidiki. Maka hari balik matahari seribu tahun yang lalu pun dapat dihitung sambil duduk saja."

Meng Zi Jilid IV B:26.3

Mang Ujang

Banyak orang menyebutku sebagai seorang petualang, dan itulah aku --hanya satu hal bedanya: seseorang yang mengorbankan kulit luarnya untuk membuktikan kebenaran di dalamnya. ~Ernesto 'Che' Guevara (1965)

0 Komentar

Konten disalin